Selamat pagi semuanya.
Kabar kalian hari ini sedang bahagia, sehat, dan kaya raya kan?
Semoga selalu begitu setiap hari.
Biar alam punya energi positif yang besar untuk tetap melanjutkan perputaran waktunya.
Hari ini, pagi-pagi, saya sudah merasa sendu sekali. Sesendu cuaca di luar yang berpayungkan mendung hari ini.
Kenapa?
Karena hari ini aku mendapat email dari seorang sahabat yang mengabarkan tentang perceraiannya dengan sang hati.
Saya terdiam cukup lama. Mencoba mencerna dan mengerti setiap baris kata yang disusunnya dalam setiap kalimat yang setiap kata dalam kalimat itu semakin menjatuhkan hati saya.
Betapa saya ingin mencegahnya!
Jangan lakukan! Pikirkan lagi!
Tapi saya tau sekali bahwa saya berada di luar 2 hati yang berkemelut itu. Walau sejujurnya saya tidak ingin hanya menjadi telinga. Tapi juga mulut yang akan mencecar mereka dengan berbagai hal yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan dan syukur-syukur bisa membuat mereka berpikir ulang dan tidak jadi memisahkan hati.
Ah, saya benar-benar sendu.
Rejeki, umur, dan jodoh adalah hal paling ajaib yang pernah saya pahami. Tak seorang pun bisa mengerti. Jika seseorang dianugerahi oleh Allah untuk bisa menebak salah satu atau dua diantara 3 hal ajaib itu, itu semata karena kemurahan Allah, dan karena laku orang tersebut yang berkenan di hati Allah.
Dan jodoh. Bagaiman kita tahu bahwa pasangan kita sekarang ini adalah jodoh kita? Beberapa orang mengatakan, waktu ketemu dia aku ngerasa klik aja gitu, trus yakin deh kalo dia jodo aku. Ah, serasa selebritis. Soalnya banyak selebritis ngomong gitu.
Bagaimana anda tau pasangan anda yang terbaik dan merupakan jodoh anda?
Pacaran yang lama ternyata bukan jaminan. Sahabat saya yang lain pacaran sejak mereka SMA. Setelah sekitar 6 tahun pacaran akhirnya menikah selama kurang lebih 7 tahun. Dua-duanya sukses dalam karier masing-masing. Sayang tidak berbanding lurus dengan kesuksesan mereka berumahtangga. Kadang kami selorohi juga, wah, sudah berapa anak bisa kalian hasilkan dalam kurun waktu selama itu. Karena ketika mereka berpisah tidak ada perebutan hak asuh anak karena yang diperebutkan tidak ada.
Saya jadi menasehati diri saya sendiri lagi. Bahwa keputusan untuk menikah adalah sebuah keputusan tidak main-main. Apalagi jika sudah dikaruniai anak. Tidak bisa lagi hanya berkata aku dan engkau. Tapi tetap sediakan waktu untuk berkata hanya aku dan engkau. Dan berkomunikasilah dengan hati. Jangan hanya mengangguk kemudian berlalu.
Dan Nina, engkau seorang ibu sekarang. Jangan manja!