Ada berita tentang seorang lelaki Jepang yang membunuh sekitar 7 orang yang dia tidak kenal di jalanan Akihabara. Kisah seorang lelaki introvert, tidak suka bergaul yang putus asa dengan dirinya sendiri. Marah dan merasa tidak berdaya dengan diri sendiri mengakibatkan ia buta hati dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa.
Pertanyaannya tentu saja mengapa ia sampai hati berbuat begitu?
Apa yang mendorongnya masuk ke toko peralatan militer dan membeli banyak pisau?
Apa yang ada dikepalanya ketika ujug-ujug ia menabrakkan truk yang dikendarainya sehingga menewaskan 3 orang dan kemudian menghujamkan pisaunya ke 4 oang lainnya yang akhirnya juga tak tertolong?
Salah apa mereka padanya?
Mari saya ajak anda melihat sebuah potret keluarga (normal) di Jepang.
Seorang ibu, seorang bapak, 2 orang anak ketika akhir pekan makan bersama di restoran. Setelah mereka duduk, apa yang kemudian mereka lakukan? Berbincang? Bergurau?
Beberapa keluarga begitu.
Banyak keluarga melakukan ini : si bapak merokok atau minum, si ibu berkutat dengan hp-nya, 2 anak mereka masing-masing tenggelam dengan PS atau game apapun itu yang mereka bawa dari rumah. Jika anak mereka sudah lumayan besar, katakan SMP, jika perempuan, mereka asyik bersms-an ria dengan teman atau pacar mereka.
Kegiatan itu baru berubah ketika makanan datang. Apakah terjadi percakapan?
Ya. Dan seringnya Tidak.
Bagaimana di rumah?
Saya ndak tau. Belum pernah dlusupan untuk survey kegiatan mereka di rumah.
Yang sering saya liat, banyak pelajar masih mengenakan seragam sekolah, masih di luar rumah bahkan ketika jam sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.
Kebanyakan pemandangan seperti itu saya jumpai di mall-mall.
Apa orang tua mereka ndak khawatir? Ndak nelpon mereka nyuruh pulang dan makan malam bersama keluarga?
Saya ndak tau. Dan ndak nanya.
Ketika anak-anak itu tumbuh semakin besar, dalam bayangan saya, tanpa orang tua terlalu turut campur dalam kehidupan mereka, kira-kira jadi seperti apa mereka? Pribadi yang tangguh yang punya semangat bushido? Kayaknya kok jauh ya ......
Ketika mereka menjadi dewasa dalam artian fisik, mereka keluar rumah. harus bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri. Jauh dari orang tua. Pertanyaan pribadi saya pada diri sendiri, enakkah hidup begitu? Sejukkah? Berlimpahkah rasa mereka? Atau kering kerontang? Jika keluar rumah di sini artinya harus melanjutkan sekolah di tempat yang jauh dari rumah dan harus kost (atau disini biasanya tinggal di apartemen) sendiri, mereka kan punya tujuan ketika keluar rumah. Punya misi dan visi. Jika pun kemudian mereka punya arubaito (part time job) di luar jam sekolah, saya kira itu untuk latihan mereka di kehidupan selepas mereka sekolah nanti. Dan saya setuju ini.
Ketika kekeringa rasa, merasa terisolir, tidak cukup punya banyak uang untuk memacari seorang gadis yang membuat mereka menjadi tidak percaya diri, anda kira-kira siapa yang memenangkan pertarungan di benak mereka? Sweet devil atau real angel?
Bunuh diri bukan merupakan kasus yang bikin publik terhenyak di Jepang. Ketika musim semi datang, berapa kasus bunuh diri terjadi di Jepang. Hanya karena mereka tidak kuat menahan keindahan musim semi yang hangat, dengan cericit burung yang riang, dan bunga-bunga yang bermekaran di mana-mana .....
(Khusus untuk ini saya mau bilang pada diri saya sendiri : hey Nina! Watch out girl!)
Saya menasehati diri saya sendiri yang kebetulan juga membesarkan anak di Jepang agar berhati-hati dalam membawa anak saya menuju waktu ketika ia harus bisa berdiri sendiri di atas kakinya. Menjadikannya kuat, tangguh dan percaya diri. Meyakinkannya bahwa ia dicintai dan tak pernah sendiri.
Bukan karena itu adalah tugas orang tua. It is simply because I want to.
Aini sayangku, engkau guru terbaikku dalam perjalananku menjadi orang tua terbaik di dunia ini.