Jelas tidak ada yang salah dengan menjadi TKW. Bahkan katanya para TKW ini dijuluki sebagai pahlawan ekonomi bangsa, setidaknya bagi keluarga mereka. Dan saya sangat kagum dengan semangat mereka. Rela bekerja jauh dari keluarga demi masa depan yang lebih baik. Berita tentang banyaknya kisah tragedi yang dialami oleh para pejuang TKW di luar negeri, tidak pernah bisa menyurutkan niat para wanita Indonesia untuk pergi bekerja di tanah air orang karena di tanah air sendiri lapangan kerja dengan gaji yang memadai sulit didapat. Hanya saja memang sebaiknya kalau mau bekerja di negeri orang memakai jasa penyalur yang benar-benar bertanggungjawab. Setidaknya lewat Depnaker.
Soal TKW begini sebenarnya aku ndak terlalu ngerti en paham.
Cuma aku punya pengalaman yang lucu terkait soal perTKWan ini.
Kisahnya terjadi ketika aku ngurus surat nikah.
Ketika di KUA.
Pertanyaan pertama yang dilontarkan petugas KUA adalah: Kerja di Jepang (alias TKW) ya mbak? Njuk kecantol orang sana gitu?
Daku cuma mesem dan menjawab; ah, enggak kok pak.
Aku merasa tidak perlu menjelaskan padanya dimana kami pertama bertemu dan lain sebagainya karena itu ndak ada sangkut pautnya dengan urusan dia
Ketika di Puskesmas.
Pertanyaan pertamanya tak jauh beda. Cuma lebih lugas: Sampeyan ini TKW ya?
Waktu kujawab bukan, mereka ndak percaya. Agak gimana gitu. Seolah-olah berkata; mbok sudah, ngaku aja kalo TKW, repot amat.
Lah, emang kenapa kalo bener TKW?
Dan kalo memang bener bukan TKW?
Don't judge people by the cover, kayaknya ndak berlaku deh.
Apalagi di bandara.
Seorang temanku punya kisah lain.
Sepulang dari Jepang menengok aku dia bercerita. Dibandara Soekarno Hatta dia disuruh antri bersama dengan para pekerja wanita yang mungkin pesawatnya barengan mendarat sama pesawat dia.
Ayo, antri di sana! Begitu kata petugas airport perempuan.
Meski sudah ditunjukin paspor punya dia berisikan visa undangan sebagai asisten suaminya sebagai seniman yang diundang oleh Jepang, tetep aja petugas itu ngeyel kalo temenku visanya TKW.
Kenapa?
Karena temenku ketika mendarat di Jakarta katanya memang kucel berat. Berangkat siang dari Narita, nginep semalam karena transit di Thailand, baru tiba di Jakarta keesokan harinya. Ndak mandi, ndak sikat gigi. Cuman nenteng tas ransel, pake jaket jeans, en sepatu kets.
Kata temenku, penampilanku lebih parah dari yang bener-bener TKW.