Kejadian beberapa hari belakangan ini dimana saya dalam seminggu tiga kali musti berurusan dengan para dokter muda yang baik hati dan sedap dipandang mata di ruang Emergency Room karena saya selalu ke sana setiap sehabis makan malam bahkan ada yang tepat di tengah malam, membuatku berhenti untuk berpikir, tentang diri sendiri, dan orang-orang yang kucintai di sekitarku.
Semua orang di dunia ini pasti punya masa lalu. Setiap pelaku punya cerita sendiri tentang lakon apa saja yang telah dijalaninya dalam waktu lampau itu.
Saat ini saya sedang berpikir, bahwa alangkah bahagianya orang yang memiliki masa lalu yang tidak ada cacatnya. Tidak pernah gagal atau setidaknya hingga saat ini belum pernah merasakan kegagalan, hidup yang mulus dari bayi ceprot hingga detik ini, tidak pernah kekurangan, tidak pernah melakukan tindakan kriminal, tidak pernah nyontek selama sekolah, tidak pernah menyakiti hati orang, tidak pernah kepengen korupsi, tidak pernah jatuh cinta pada pasangan orang lain, tidak pernah selingkuh, tidak pernah aborsi, tidak pernah membunuh, bahkan tidak pernah berkata kasar kepada ayah ibu.
Saya menduga, bahwa orang seperti itu pasti jauh dari stres, pasti jauh dari perasaan bersalah atas apa yang telah diperbuatnya di waktu yang telah lewat.
Ketika kemarin Tuhan memperingatkan saya dengan 'serangan menjelang fajar' itu, saya kira Tuhan mau saya berhenti untuk berpikir sejenak tentang diri saya sendiri, dan orang-orang yang saat ini Tuhan amanahkan pada saya.
Masa lalu tidak bisa dicoret atau dirobek dari lembaran cerita hidup kita.
Saya berpikir, bahwa masa lalu harus disikapi dengan cara yang bijaksana.
Sekedar berusaha melupakan saya pikir bukan solusi yang baik.
Bagaimanapun, masa lalu itu tetap di sana.
Sekarang, saya ingin berusaha memaafkan diri saya sendiri karena setiap manusia pasti punya kapasitas yang terbatas.
Dengan 2 amanah yang Tuhan percayakan pada saya, saya ingin menjadi orang yang lebih kuat dan tabah dari sebelumnya. Dan tentu saja berpikir panajng dulu sebelum bertindak. Karena yang namanya menyesal itu tidak pernah ada di depan.