Warna-warna Dunia nina

Blog EntryPadamu JuaMay 12, '08 7:59 AM
for everyone

Ketika pecah perang dunia ke2, dimana Jepang juga memainkan peranan sebagai pelaku peperangan yang kemudian terkenal seantero dunia dengan kebengisannya, pemuda Kiyoshi Harada yang waktu itu baru duduk kelas 1 SMP, harus bekerja untuk pemerintah Jepang diperakitan pesawat tempur Jepang bagian membuat lensa pembidik. Syukur waktu itu ia baru kelas 1, karena kakak-kakak kelasnya yang masih sama pemuda ingusan sepertinya harus maju ke medan perang sesuai perintah negara. Bersama pemuda-pemuda seusianya yang belum dikirim ke medan perang, mereka harus bekerja membuat senjata perang. Tiada daya untuk menolak ......

Diwaktu yang sama, perempuan muda berperawakan kecil dengan mata berkilat cerdas, duduk di bangku kuliah jurusan pendidikan di Universitas Negeri Yokohama yang memang terkenal sebagai IKIP terbaik di daratan Jepang. Perempuan muda itu bernama Keiko Sato, yang lahir di Miyagi Ken 5 Mei, tepat di hari yang kemudian diperingati sebagai hari Anak-anak Jepang.

Selepas bangku SMA, orang tua Kiyoshi punya mimpi anaknya bakal jadi PNS, sehingga hidup mereka pasti akan kecukupan di kelak kemudian hari. Oleh karena itu mereka mengirim Kiyoshi ke perguruan tinggi jurusan ekonomi. 
Tetapi ketika ada kesempatan jalan-jalan ke Tokyo, Kiyoshi melihat poster pameran seni lukis Eropa di sebuah museum di Tokyo. Ia tertarik dan melangkahkan kaki ke sana.
Kemudian ia terhenyak. Seperti terkena pencerahan. 
Tak bisa menipu diri lebih lama lagi, diam-diam ia membelok jurusan dari ekonomi ke sekolah seni. Uang saku tentunya terus mengalir karena orang tua tidak tahu menahu pembelotan yang dilakukan Kiyoshi. Ketika akhirnya tercium juga 'kenakalan' itu, uang saku berhenti bersama meledaknya amarah orang tua. Sekolah seni itu haram! Mau jadi apa kamu? Seniman? Makan apa? Kuassss????? Mungkin begitu amarah sang orang tua. Kiyoshi pun berhenti sekolah. Frustasi, ia melarikan diri ke Odawara. Nyantri di padepokan seorang seniman di sana.

Alkisah, lulus dari UNY (Universitas Negeri Yokohama), Keiko langsung diterima mengajar di sekolah misionari di Hakone. Sebuah kota berhawa sejuk hanya beberapa kilometer dari kota Odawara. Keiko di hari luangnya juga suka melukis. Maka diputuskannya untuk mengambil kelas melukis di akhir pekan. Ia pun lalu nyantri di padepokan lukis Odawara.

Tahun itu 1951.
Pertama kali Kiyoshi Harada berkenalan dengan Keiko Sato yang lebih tua tujuh tahun darinya.

Waktu bergulir. Tahun berganti.
Akhirnya sekitar tahun 1956 mereka menghadap keluarga Sato untuk minta restu. Tak cuma restu yang diberikan, tapi juga uang untuk sedikit membuat perayaan pernikahan. Adakah pesta digelar? Tidak. Karena dengan uang pemberian orang tua tersebut, mereka melarikan diri ke Nagasaki! Yah, hitung-hitung bulan madu!

Kemudian mereka menetap di kota Fujisawa. Keadaan di Jepang sangat sulit. Jangankan uang, makananpun sulit di dapat. Pekerjaan juga tak tersedia. Berkah Tuhan, ketika keadaan sulit, Keiko yang kemudian ganti nama menjadi Keiko Harada mengikuti nama suami, hamil. Tak jarang ia berjalan sendirian, mencermati jengkal tanah, siapa tahu ada uang tercecer, sedikit saja .... Karena cuma bisa makan sekali sehari dengan janin di perut, maka air ketubannya menjadi cuma sedikit. Dan dokterpun khawatir. Tapi bagaimana lagi. Makan sekali sehari itu sudah lebih baik daripada tidak makan sama sekali.
Alhamdulillah jabang bayi lahir dengan selamat dan sehat. Mereka menamai bayi merah itu Akatsuki yang berarti selamat.

Karena keadaan tak juga kunjung membaik, diputuskan mereka tinggal bersama dengan orang tua Kiyoshi, di Samukawa. Seperti kisah drama di sinetron Indonesia, bisa diduga sambutan apa yang diterima Keiko di sana. Dingin. Dan juga amarah. Gara-gara engkau anakku tak menurut nasihat orang tua. Sudah lebih tua, persuasif lagi! Kira-kira begitu dongkol ibunda Kiyoshi. Sang bapak yang pendiam, lebih bisa mengendalikan diri dan akhirnya menerima keadaan. Hanya sang bunda dan adik saja yang wajahnya tetap manyun cemberut. Anakku itu nggak kalah ngganteng sama Brad Pit, kok jatuhnya ya sama perempuan lebih tua. Memangnya Keiko itu Demi Moore?

Kemudian Keiko diterima mengajar di SD di daerah kota Fujisawa. Bangun di pagi buta ia memasak utnuk sarapan keluarga. Kemudian membantu bapak mertua memilah hasil ladang. Membersihkan rumah. Ngopeni anak. Baru berangkat mengajar. Pulang mengajar, rutinitas sama. Keadaan begitu setiap hari. Tak jarang ia jatuh ketiduran di dalam kelas.

Lantas apa kerja Kiyoshi? Ia berkeliling-keliling membawa peralatan lukisnya kemana saja tempat yang menurutnya menginspirasi.
Keiko tidak marah dan tidak menuntut apa-apa. Ia terus mendorong suaminya meraih impiannya menjadi seniman yang berkarakter dan dikenal orang.

Ketika Akatsuki berusia 2 tahun, Keiko mendapat kecelakaan. Ia ditabrak mobil dari belakang. Tulang punggungnya cedera. Keiko harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Kemudian diputuskan Akatsuki dibawa ke Miyagi Ken. Rumah orang tua Keiko. Karena Keiko khawatir meninggalkan anaknya sendiri dengan ibu mertuanya. Takut ndak diurusin.

Akatsuki kemudian dirawat kakak perempuan Keiko, Reiko. Lama-lama Akatsuki kecil memanggil Reiko ibu, dan Keiko tante .....

Kecelakaan itu membuat Keiko harus berhenti dari pekerjaannya. Akhirnya ia hanya berdiam di rumah. Menghadapi ibu mertua yang tak kunjung lunak jua hatinya.

Perjuangan Keiko tidak sia-sia. Keadaan yang menekan dan sulit sedikit-sedikit menjadi mudah. Kiyoshi sedikit demi sedikit dikenal orang karyanya. Cuma ia beralih dari seni lukis ke seni pahat. Kemudian ia mendapat tawaran menjadi anggota Rotary Club, yang anggotanya tentu saja wong mblegedu. Tawaran membuat patung semakin deras mengalir. Pundi-pundi uang tentu saja juga menggemuk. Tak terkecuali pemerintah kota Samukawa memintanya membuat beberapa karya untuk dipajang di belahan kota. Kiyoshi yang kemudian terkenal dengan sebutan Junsei sebagai nama senimannya, membuat beberapa patung yang sampai sekarang bisa ditemukan di depan stasiun kereta api Samukawa, di pelataran Balai Kota, di ujung taman kota, dan susut-sudut kota lainnya. Juga kuil Samukawa memintanya membuat sebuah patung yang diletakkan di atas kolam ikan koi, dan juga di sudut jalan menuju kuil. Pemerintah kota Chigasaki juga tak ketinggalan memintanya untuk membuat sebuah patung yang kemudian diletakkan di aula. Patung itu sekarang diberi pembatas. Saking realnya, banyak orang ingin menyentuh patung perempuan yang sedang duduk menanti itu.

Keiko kemudian membuka kursus di rumah. Kursus melukis dan kursus mata pelajaran. Kiyoshi yang menjadi terkenal di seantero kota, juga turut membantunya.

Sekitar tahun 2002, Keiko tiba-tiba berperilaku aneh. Ia mulai kehilangan memori. Ia meletakkan sendok di laci dokumen. Ketika memegang sendok, ia diam saja, tak tahu ini benda apa dan untuk apa. Akhirnya dijatuhkannya sendok itu. Muka Keiko juga menjadi merah dan ia lebih banyak tertegun. Akhirnya Kiyoshi dan anaknya membawa Keiko ke dokter. Hasil analisa, Keiko terkena Alzheimer.

Bahu-membahu dengan anaknya, Kiyoshi merawat Keiko yang semakin turun daya ingatnya. Pernah Keiko hilang. Kiyoshi kelabakan. Tiba-tiba sopir taksi mengantar Keiko pulang. Usut punya usut, Keiko jalan hingga Chigasaki. Untung ada sopir taksi baik hati. Untung di dalam dompet Keiko ada alamat rumahnya. 

Demikian hari terus berganti. Keiko menuntut perhatian penuh Kiyoshi. Bulan Maret 2003, 2 bulan setelah hari Ulang tahunnya yang ke 72, Kiyoshi tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Anaknya Akatsuki berusaha memberi pertolongan pertama sambil menanti ambulance datang. Waktu berkehendak lain. Kiyoshi akhirnya meninggal di pelukan anak tunggalnya ......
Keiko yang tak mengerti bertanya, mengapa laki-laki ini tak menjawab ketika dipanggil? Keiko tetap tak mengerti mengapa banyak orang (sangat amat banyak orang) datang ke rumahnya. Dan mengapa laki-laki ini tidur saja kerjanya ......

Karena Akatsuki harus kerja dan tidak mungkin meninggalkan ibunya sendirian di rumah atau membawa ibunya ke tempat kerja, akhirnya ia membawa sang ibu ke hospice. Agar lebih terjaga dan terawat.

Di ujung tahun 2007, Keiko menolak setiap makanan lunak yang disuapkan padanya. Akhirnya Keiko dibawa ke rumah sakit desa Samukawa di awal tahun 2008. Hasil diagnosa, ada kanker di perutnya. Perkiraan dokter, minimal 3 bulan maksimal 6 bulan sebelum sel kanker memakan daya tahan tubuh Keiko.

Setelah pindah rumah sakit lagi di rumah sakit Gosyomi, karena RSUD Samukawa hanya mampu merawat selama 3 bulan saja, tanggal 27 April 2008, seminggu sebelum Keiko merayakan ulang tahunnya yang ke 85, Kiyoshi datang menjemput Keiko .....

Kini Kiyoshi  dan Keiko telah bersama lagi.
Di rumah mereka yang abadi, di Sono Uchi ......

( Posting panjang ini buat almarhum Bapakku mertua dan almarhumah Ibuku Mertua.
  Kisah cinta kalian abadi ..... )


nuwowawai wrote on May 20
sedih juga membaca perjalanan mertua mbak,....ibu mertua orang miyagi?,....tentu beliau orangnya lembut dan selalu berbicara sopan, saya senang dg karakter orang jepang dr miyagi(sendai)
ninaharada wrote on May 20
betul, lahir di miyagi. ibu memang lembut, feminin, dan sopan. tapi juga sangat cerdas! sayang, ketika saya berkenalan dengannya, beliau sudah terkena alzheimer ......
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help