Warna-warna Dunia nina

Blog EntryBeautiful MindJul 3, '08 3:13 AM
for everyone

Hari ini sengaja saya tidak mau diantar suami ke tempat belajar bahasa Jepang. Saya bilang saya mau naik bis saja. Biar nanti kalo ditanya sama ibu Sensei (guru) saya punya cerita pengalaman saya pagi ini.

Ketika hendak menyeberang ke halte bis, di halte itu saya liat sudah ada seorang bapak yang duduk di bangku, sepertinya beliau juga sedang menunggu bis.
Begitu saya tiba di halte, si bapak berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di samping saya. 

Saya ucapkan selamat pagi pada beliau.
Beliau langsung menebak bahwa melihat kulit saya yang hitam, mata saya yang 2 kali lebih besar dari mata beliau, dan penampilan saya yang kata Haley ndeso look () saya pasti bukan orang Jepang.

Sebisa mungkin saya menjawab pertanyaan beliau dalam bahasa Jepang yang sopan (dalam bahasa Jawa pake krama inggil, gitu) sesuai ajaran ibu guru bahasa Jepang saya.

Melihat saya agak gelagapan dalam unggah-unguh bahasa saya, tanpa saya sangka si bapak langsung ganti bahasa yang lebih mudah saya pahami, bahasa Inggris.

Saya kaget bukan kepalang.
Melihat umur beliau yang tidak muda lagi tapi demikian fasih berbahasa Inggris.
Di desa Samukawa lagi!

Lebih kaget ternyata beliau adalah lulusan Tokyo University.
Lebih-lebih kaget lagi beliau mengaku seorang pasien mental hospital!
Tanpa sungkan dan dengan jujur dia mengaku sejak usia muda mengalami ketidakstabilan jiwa. Setiap Kamis beliau pergi ke Fujisawa untuk mendapatkan perawatan dan mengambil obat yang harus diminum menjelang tidur.
Kata beliau lagi, tapi sekarang saya sudah baik.
Mungkin beliau berkata begitu biar saya ndak takut, ndak nyangka bahwa beliau gila dan bakalan ngamuk saya.

Sama sekali saya tidak merasa takut.
Dan tidak menyangka yang tidak-tidak.

Di dalam bis yang membawa saya ke Chigasaki, saya teringat film yang dibintangi Sherryl eh Russel Crow, Beautiful Mind. Kisah sang genius yang tragis tapi beruntung beroleh istri yang demikian tabah dan setia. Tentang bapak itu, saya tidak tau apakah beliau beristri atau tidak. Yang tergores di benak saya, kecerdasan yang merupakan anugerah terkadang punya sisi lain yang tajam yang jika kita tidak hati-hati, bisa melukai jiwa.

Pesan saya pada diri sendiri dan anda, peliharalah otak anda dengan baik.
Jika terlalu diforsir, saya dan anda bisa kena penyakit mental.
Jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, saya dan anda bisa kena penyakit pikun sebelum waktunya, atau bahkan alzheimer ......

Blog EntrySaya Kelelep, Situ Jatuh CintaJun 27, '08 2:32 AM
for everyone
Kemarin sepulang belajar bahasa Jepang, saya diundang salah satu teman Indonesia yang juga bersuamikan Jepang makan siang bersama di rumahnya. Tidak hanya kami berdua, tapi ada 3 orang perempuan lainnya, salah satu dan satu-satunya ada satu perempuan Jepang. Sengaja Aini ditinggal aja di rumah. Biar mempererat hubungan bapak dan anak gitu .... Ndak mama-mama-nen aja.

Namanya juga ibu-ibu. Tauk sendirilah kalo udah ketemu kayak apa.
Sambil makan kita cerita ngalor-ngidul.

Cerita ngalor-ngidul ini tidak berhenti meski acara makan siang sudah selesai dan 3 diantara kami, saya salah satunya, jalan bersama menuju stasiun kereta api untuk pulang ke rumah masing-masing.

Mbak Kadek yang asli Bali dan ahli surfing itu cerita waktu masih lajang di Bali ketika sedang surfing ada 2 orang Indonesia yang sepertinya tengah berada dalam kesulitan dan salah satunya hampir tenggelam. 
Segera mbak Kadek dengan papan selancarnya pergi menolong.
Tapi apa yang didapat mbak Kadek? Ucapan terimakasih?
Tidak. Malah ia DIMAKI-MAKI. Kebetulan di dekat kejadian itu ada surfer dari Hawai yang juga ikutan menolong, dan juga ikutan DIMAKI-MAKI.

Apa lacur?

Saya jadi inget pengalaman saya sendiri. Waktu itu taun 2000. Atasan saya si bos kecil ditugaskan ke Bali sebulan penuh untuk menjadi EO di sebuah event yang diadakan pak Boss besar saya. Mana bisa saya biarkan bos kecil saya itu senang-senang sendiri? Ngeyel saja, pokoknya saya mau ikut. 

Setelah event terselenggara dengan sukses, kami tidak langsung pulang ke Solo. Tapi senang-senang dulu di Tejakula yang pantai indahnya masih jauh dari sentuhan kaum turis.

Saya sebenarnya ndak bisa berenang. Tapi siapa yang bisa menahan godaan debur ombak yang begitu melambai jiwa? 

Saya nyebur aja. Dan ndak tau kalo pantainya tidak melandai tapi patah beberapa meter selepas pantai dan patahannya itu langsung dalam.

Bisa ditebak, saya kelelep.

Untung ada Wayan (kalo ga salah namanya) sang penjaga penginapan yang segera sigap menangkap dan menolong saya.

Beberapa hari setelah pulang ke Solo dengan badan kerempeng dan kulit hitam legam karena sebulan kerjaannya keluyuran di pantai, saya dapat surat. Dari Wayan. 

Katanya, sejak peristiwa 'penangkapan' itu, ia tidak bisa melupakan saya ....



Blog EntryIstriku TentaraJun 21, '08 11:27 PM
for everyone

Setidaknya almuni akademi polisi atau akademi militer.
Begitu kata suamiku.

Mengapa?

Karena aku selalu mengatkan kata ini untuk setiap kesempatan.
'AYO'.

Misalnya, Aini, ayo mandi.
Atau, Aini, ayo makan.
Lainnya, Ayo Abi, ngrokoknya nanti aja. Rokok mau jadi 1000yen perpak nih!
Seringnya, Aini, ayo cuci tangan dulu.
Ayo sikat gigi.
Ayo kumpulkan mainanmu.
Ayo jangan main air terus, mahal.
Ayo matikan televisi.
Ayo.
Ayo.
Ayo.

See?

(Sengaja gak pake tanda seru, takutnya ntar kalian setuju sama pendapat suamiku)

Blog EntrySedih Pagi-pagiJun 19, '08 9:26 PM
for everyone
Selamat pagi semuanya.
Kabar kalian hari ini sedang bahagia, sehat, dan kaya raya kan?
Semoga selalu begitu setiap hari.
Biar alam punya energi positif yang besar untuk tetap melanjutkan perputaran waktunya.

Hari ini, pagi-pagi, saya sudah merasa sendu sekali. Sesendu cuaca di luar yang berpayungkan mendung hari ini.
Kenapa?
Karena hari ini aku mendapat email dari seorang sahabat yang mengabarkan tentang perceraiannya dengan sang hati.

Saya terdiam cukup lama. Mencoba mencerna dan mengerti setiap baris kata yang disusunnya dalam setiap kalimat yang setiap kata dalam kalimat itu semakin menjatuhkan hati saya.

Betapa saya ingin mencegahnya!
Jangan lakukan! Pikirkan lagi! 

Tapi saya tau sekali bahwa saya berada di luar 2 hati yang berkemelut itu. Walau sejujurnya saya tidak ingin hanya menjadi telinga. Tapi juga mulut yang akan mencecar mereka dengan berbagai hal yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan dan syukur-syukur bisa membuat mereka berpikir ulang dan tidak jadi memisahkan hati.

Ah, saya benar-benar sendu.

Rejeki, umur, dan jodoh adalah hal paling ajaib yang pernah saya pahami. Tak seorang pun bisa mengerti. Jika seseorang dianugerahi oleh Allah untuk bisa menebak salah satu atau dua diantara 3 hal ajaib itu, itu semata karena kemurahan Allah, dan karena laku orang tersebut yang berkenan di hati Allah.

Dan jodoh. Bagaiman kita tahu bahwa pasangan kita sekarang ini adalah jodoh kita? Beberapa orang mengatakan, waktu ketemu dia aku ngerasa klik aja gitu, trus yakin deh kalo dia jodo aku. Ah, serasa selebritis. Soalnya banyak selebritis ngomong gitu.

Bagaimana anda tau pasangan anda yang terbaik dan merupakan jodoh anda?

Pacaran yang lama ternyata bukan jaminan. Sahabat saya yang lain pacaran sejak mereka SMA. Setelah sekitar 6 tahun pacaran akhirnya menikah selama kurang lebih 7 tahun. Dua-duanya sukses dalam karier masing-masing. Sayang tidak berbanding lurus dengan kesuksesan mereka berumahtangga. Kadang kami selorohi juga, wah, sudah berapa anak bisa kalian hasilkan dalam kurun waktu selama itu. Karena ketika mereka berpisah tidak ada perebutan hak asuh anak karena yang diperebutkan tidak ada.

Saya jadi menasehati diri saya sendiri lagi. Bahwa keputusan untuk menikah adalah sebuah keputusan tidak main-main. Apalagi jika sudah dikaruniai anak. Tidak bisa lagi hanya berkata aku dan engkau. Tapi tetap sediakan waktu untuk berkata hanya aku dan engkau. Dan berkomunikasilah dengan hati. Jangan hanya mengangguk kemudian berlalu. 

Dan Nina, engkau seorang ibu sekarang. Jangan manja!

Blog EntryPotret Keluarga ModernJun 15, '08 4:25 AM
for everyone

Ada berita tentang seorang lelaki Jepang yang membunuh sekitar 7 orang yang dia tidak kenal di jalanan Akihabara. Kisah seorang lelaki introvert, tidak suka bergaul yang putus asa dengan dirinya sendiri. Marah dan merasa tidak berdaya dengan diri sendiri mengakibatkan ia buta hati dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa. 

Pertanyaannya tentu saja mengapa ia sampai hati berbuat begitu?
Apa yang mendorongnya masuk ke toko peralatan militer dan membeli banyak pisau?
Apa yang ada dikepalanya ketika ujug-ujug ia menabrakkan truk yang dikendarainya sehingga menewaskan 3 orang dan kemudian menghujamkan pisaunya ke 4 oang lainnya yang akhirnya juga tak tertolong?
Salah apa mereka padanya?

Mari saya ajak anda melihat sebuah potret keluarga (normal) di Jepang.

Seorang ibu, seorang bapak, 2 orang anak ketika akhir pekan makan bersama di restoran. Setelah mereka duduk, apa yang kemudian mereka lakukan? Berbincang? Bergurau?
Beberapa keluarga begitu. 
Banyak keluarga melakukan ini : si bapak merokok atau minum, si ibu berkutat dengan hp-nya, 2 anak mereka masing-masing tenggelam dengan PS atau game apapun itu yang mereka bawa dari rumah. Jika anak mereka sudah lumayan besar, katakan SMP, jika perempuan, mereka asyik bersms-an ria dengan teman atau pacar mereka.
Kegiatan itu baru berubah ketika makanan datang. Apakah terjadi percakapan?
Ya. Dan seringnya Tidak.

Bagaimana di rumah?
Saya ndak tau. Belum pernah dlusupan untuk survey kegiatan mereka di rumah.
Yang sering saya liat, banyak pelajar masih mengenakan seragam sekolah, masih di luar rumah bahkan ketika jam sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. 
Kebanyakan pemandangan seperti itu saya jumpai di mall-mall.

Apa orang tua mereka ndak khawatir? Ndak nelpon mereka nyuruh pulang dan makan malam bersama keluarga?
Saya ndak tau. Dan ndak nanya.

Ketika anak-anak itu tumbuh semakin besar, dalam bayangan saya, tanpa orang tua terlalu turut campur dalam kehidupan mereka, kira-kira jadi seperti apa mereka? Pribadi yang tangguh yang punya semangat bushido? Kayaknya kok jauh ya ......

Ketika mereka menjadi dewasa dalam artian fisik, mereka keluar rumah. harus bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri. Jauh dari orang tua. Pertanyaan pribadi saya pada diri sendiri, enakkah hidup begitu? Sejukkah? Berlimpahkah rasa mereka? Atau kering kerontang? Jika keluar rumah di sini artinya harus melanjutkan sekolah di tempat yang jauh dari rumah dan harus kost (atau disini biasanya tinggal di apartemen) sendiri, mereka kan punya tujuan ketika keluar rumah. Punya misi dan visi. Jika pun kemudian mereka punya arubaito (part time job) di luar jam sekolah, saya kira itu untuk latihan mereka di kehidupan selepas mereka sekolah nanti. Dan saya setuju ini.

Ketika kekeringa rasa, merasa terisolir, tidak cukup punya banyak uang untuk memacari seorang gadis yang membuat mereka menjadi tidak percaya diri, anda kira-kira siapa yang memenangkan pertarungan di benak mereka? Sweet devil atau real angel?

Bunuh diri bukan merupakan kasus yang bikin publik terhenyak di Jepang. Ketika musim semi datang, berapa kasus bunuh diri terjadi di Jepang. Hanya karena mereka tidak kuat menahan keindahan musim semi yang hangat, dengan cericit burung yang riang, dan bunga-bunga yang bermekaran di mana-mana .....
(Khusus untuk ini saya mau bilang pada diri saya sendiri : hey Nina! Watch out girl!)

Saya menasehati diri saya sendiri yang kebetulan juga membesarkan anak di Jepang agar berhati-hati dalam membawa anak saya menuju waktu ketika ia harus bisa berdiri sendiri di atas kakinya. Menjadikannya kuat, tangguh dan percaya diri. Meyakinkannya bahwa ia dicintai dan tak pernah sendiri. 
Bukan karena itu adalah tugas orang tua. It is simply because I want to.

Aini sayangku, engkau guru terbaikku dalam perjalananku menjadi orang tua terbaik di dunia ini. 

Blog EntryCelana MenyengatJun 13, '08 4:37 AM
for everyone

Ini sekedar peringatan aja buat para ibu-ibu sekalian. Terutama yang punya halaman cukup luas dan ditumbuhi banyak bunga.

Beberapa waktu yang lalu, ketika matahari cukup ramah menyinari bumi matahari terbit ini, aku mepe alias njemur baju di halaman belakang rumah.
Ketika dirasa sudah kering, aku ngangkat jemuran dan langsung kulipat dan kumasukkan di laci pakaian menurut fungsi bajunya.

Malamnya, setelah mandi sebelum pergi bobo, tentu saja kami ganti baju bersih tak terkecuali daleman.
Baju dan dalemanku dan Aini aman hingga kami selesai memakainya.
Giliran suami, tiba-tiba dia terkejut luar biasa ketika hendak memakai cd-nya.
Ada yang berdengung dari dalam cd-nya. Ketika dikibaskan suami, seekor bumble bee terbang menyeruak keluar.
Terkejut, tentu saja.
Syukur alhamdulillah belum dipakai. Selamat deh semuanya .

Tentu saja acara berikutnya malam itu adalah, gusah-gusah sang bumble bee ......

Untung cuma bumble bee. Coba kalo seekor tawon seperti punya bapak yang satu ini
Tak terbayangkan ....

Blog EntryJadi sampeyan ini TKW?Jun 10, '08 3:22 AM
for everyone

Jelas tidak ada yang salah dengan menjadi TKW. Bahkan katanya para TKW ini dijuluki sebagai pahlawan ekonomi bangsa, setidaknya bagi keluarga mereka. Dan saya sangat kagum dengan semangat mereka. Rela bekerja jauh dari keluarga demi masa depan yang lebih baik. Berita tentang banyaknya kisah tragedi yang dialami oleh para pejuang TKW di luar negeri, tidak pernah bisa menyurutkan niat para wanita Indonesia untuk pergi bekerja di tanah air orang karena di tanah air sendiri lapangan kerja dengan gaji yang memadai sulit didapat. Hanya saja memang sebaiknya kalau mau bekerja di negeri orang memakai jasa penyalur yang benar-benar bertanggungjawab. Setidaknya lewat Depnaker.

Soal TKW begini sebenarnya aku ndak terlalu ngerti en paham. 
Cuma aku punya pengalaman yang lucu terkait soal perTKWan ini.

Kisahnya terjadi ketika aku ngurus surat nikah.

Ketika di KUA.
Pertanyaan pertama yang dilontarkan petugas KUA adalah: Kerja di Jepang (alias TKW) ya mbak? Njuk kecantol orang sana gitu? 

Daku cuma mesem dan menjawab; ah, enggak kok pak.
Aku merasa tidak perlu menjelaskan padanya dimana kami pertama bertemu dan lain sebagainya karena itu ndak ada sangkut pautnya dengan urusan dia

Ketika di Puskesmas.
Pertanyaan pertamanya tak jauh beda. Cuma lebih lugas: Sampeyan ini TKW ya?
Waktu kujawab bukan, mereka ndak percaya. Agak gimana gitu. Seolah-olah berkata; mbok sudah, ngaku aja kalo TKW, repot amat.

Lah, emang kenapa kalo bener TKW?
Dan kalo memang bener bukan TKW?

Don't judge people by the cover, kayaknya ndak berlaku deh.

Apalagi di bandara. 

Seorang temanku punya kisah lain.
Sepulang dari Jepang menengok aku dia bercerita. Dibandara Soekarno Hatta dia disuruh antri bersama dengan para pekerja wanita yang mungkin pesawatnya barengan mendarat sama pesawat dia.

Ayo, antri di sana! Begitu kata petugas airport perempuan.
Meski sudah ditunjukin paspor punya dia berisikan visa undangan sebagai asisten suaminya sebagai seniman yang diundang oleh Jepang, tetep aja petugas itu ngeyel kalo temenku visanya TKW.

Kenapa?

Karena temenku ketika mendarat di Jakarta katanya memang kucel berat. Berangkat siang dari Narita, nginep semalam karena transit di Thailand, baru tiba di Jakarta keesokan harinya. Ndak mandi, ndak sikat gigi. Cuman nenteng tas ransel, pake jaket jeans, en sepatu kets.

Kata temenku, penampilanku lebih parah dari yang bener-bener TKW.

Bukan begitu, jeng Wiwik

Blog EntryMitsu!!Jun 8, '08 8:06 PM
for everyone
3 tahun yang lalu, setelah berjuang selama 32 jam di klinik bersalin, akhirnya Gusti Yang Maha Welas dan Asih menganugerahiku seorang putri sipit yang cantik yang kemudian kami beri tetenger Aini Nawayuni Harada.
Semoga tumbuh sempurna menjadi anak yang sholehah, pinter, nurut sama mama en abi, selalu sehat, ceria, dan begja dalam hidupmu ya cah ayuku .....

Blog EntryMemaafkanJun 2, '08 1:06 AM
for everyone

Kejadian beberapa hari belakangan ini dimana saya dalam seminggu tiga kali musti berurusan dengan para dokter muda yang baik hati dan sedap dipandang mata di ruang Emergency Room karena saya selalu ke sana setiap sehabis makan malam bahkan ada yang tepat di tengah malam, membuatku berhenti untuk berpikir, tentang diri sendiri, dan orang-orang yang kucintai di sekitarku.

Semua orang di dunia ini pasti punya masa lalu. Setiap pelaku punya cerita sendiri tentang lakon apa saja yang telah dijalaninya dalam waktu lampau itu.

Saat ini saya sedang berpikir, bahwa alangkah bahagianya orang yang memiliki masa lalu yang tidak ada  cacatnya. Tidak pernah gagal atau setidaknya hingga saat ini belum pernah merasakan kegagalan, hidup yang mulus dari bayi ceprot hingga detik ini, tidak pernah kekurangan, tidak pernah melakukan tindakan kriminal, tidak pernah nyontek selama sekolah, tidak pernah menyakiti hati orang, tidak pernah kepengen korupsi, tidak pernah jatuh cinta pada pasangan orang lain, tidak pernah selingkuh, tidak pernah aborsi, tidak pernah membunuh, bahkan tidak pernah berkata kasar kepada ayah ibu.

Saya menduga, bahwa orang seperti itu pasti jauh dari stres, pasti jauh dari perasaan bersalah atas apa yang telah diperbuatnya di waktu yang telah lewat.

Ketika kemarin Tuhan memperingatkan saya dengan 'serangan menjelang fajar' itu, saya kira Tuhan mau saya berhenti untuk berpikir sejenak tentang diri saya sendiri, dan orang-orang yang saat ini Tuhan amanahkan pada saya.

Masa lalu tidak bisa dicoret atau dirobek dari lembaran cerita hidup kita.
Saya berpikir, bahwa masa lalu harus disikapi dengan cara yang bijaksana.
Sekedar berusaha melupakan saya pikir bukan solusi yang baik.
Bagaimanapun, masa lalu itu tetap di sana. 

Sekarang, saya ingin berusaha memaafkan diri saya sendiri karena setiap manusia pasti punya kapasitas yang terbatas.

Dengan 2 amanah yang Tuhan percayakan pada saya, saya ingin menjadi orang yang lebih kuat dan tabah dari sebelumnya. Dan tentu saja berpikir panajng dulu sebelum bertindak. Karena yang namanya menyesal itu tidak pernah ada di depan.
 

Blog EntryHere Raise The Bugs!May 26, '08 8:34 AM
for everyone
Well, it is getting hotter day by day.
Weather changes like woman's heart.
Sometimes cold like spring air still there, sometimes hot like summer has arrive.
And the rain ....
I can see farmers are getting busy with their field.
It is time to 'rice'.

But unfortunately, it is also time for bugs, to rise and shine!!!!

My garden fortunately is wide enough, with many big trees.

Oh dear bugs, please give me mercy .....





Blog EntryBulannya ikut ya, Ma?May 21, '08 3:11 AM
for everyone


Biasanya ketika kami kecapekan dan tidak sempat memasak untuk makan malam, maka kami putuskan untuk makan di luar. Maksudnya makan di resto gitu. Bukan makan di halaman depan ....


Ketika keluar dari rumah, Aini yang berjalan duluan berteriak ; Abi, Mama, liat, ada bulan!
Kebetulan waktu itu bulan memang sedang purnama. Dan memang sedang elok-eloknya.


Ketika sampai di resto langganan, keluar dari mobil Aini lari duluan. Tiba-tiba dia berteriak lagi.
Ma, bulannya ada 2!
Kutanya, lo kok ada dua?
Dia jawab, iya ada 2. Satu di rumah Aini dan satu di sini .........


Di lain kesempatan, kami keluar lagi untuk makan malam. Kebetulan malam itu pas purnama juga.
Aini menyapa sang bulan; selamat malam tsuki sama (bulan).
Ketika sampai di restoran, kebetulan sang bulan tertutup awan hitam.
Jadi ketika Aini melongok ke atas, dia tidak berkomentar apa-apa karena dia tidak bisa melihat bulan.
Selesai makan, kami berjalan keluar ke parkiran.
Tiba-tiba Aini menunjuk ke atas, Ma, liat, bulannya sudah sampai sini ... ! 



Blog EntryAnjing Jepang vs Anjing IndonesiaMay 20, '08 3:01 AM
for everyone

Yang jelas, anjing milik orang Jepang pasti kopen (keurus). Makanannya enak, kandangnya bagus, kesehatannya terjaga. Kalau sakit dibawa ke klinik binatang yang biayanya biasanya lebih mahal daripada jika yang sakit yang empunya anjing.
Untuk bisa memelihara seekor anjing, jika beruntung bisa mendapatkannya secara gratis karena diberi oleh orang. Yang nggak gratis itu tetep vaksinnya. Yang pengen punya anjing tapi nggak ada yang memberi ya mesti beli. Harganya murah. Paling murah seekor anjing itu sekitar 89.000 yen diluar pajak dan vaksin. Yang termahal, tidak usah ditulis saja. Nanti anda kira saya bohong ..........

Pernak-pernik anjing orang Jepang juga heboh. Dari sepatu hingga baju hangat ada. Bahkan kalo matahari bersinar terang, ya pakai kacamata. Kalo perjalanan terlalu jauh ditempuh dan kaki takut jadi pegal, ya tinggal naik kereta dorong anjing. Kalo lagi gak pengen naik kereta dorong dan jalan-jalannya terlalu lama, ya minta gendong.
Enak jadi anjing di Jepang. Karena mereka itu bak anak sendiri bagi yang punya. Bahkan si empunya anjing menamakan diri mereka Okaasan (ibu) dan Otoosan(bapak) bagi si anjing. Si anjing sendiri hampir tidak pernah dipanggil Inu, anjing dalam bahasa Jepang. Tapi lebih sering disebut Wan-chan. Biar kyut, gitu. Dan sebutan chan biasanya ditujukan untuk anak-anak manusia, seperti anakku dipanggil tetangga dengan Aini-chan. Sementara tetanggaku itu memanggil anjing tetanggaku dengan Sakura-chan. Hohoho.
Saya lantas jadi berpikir, apakah karena itu orang Jepang jadi males punya anak manusia beneran ya? Kan kebutuhan mereka akan momongan sudah tersalurkan?

Lantas bagaimana dengan anjing punya orang Indonesia?
Mungkin keurus juga. Mungkin juga keurus tetangga. Mungkin juga keurus tukang sate Jamu seperti di kota saya, Solo.


Saya takut anjing. Karena waktu kecil pernah dikejar dan hampir digigit Herder besar milik penjual telor dekat rumah saya ketika berangkat sekolah.
Dan kampung saya hampir ndak ada anjinngya. Hampir. Satu tetangga saya ada yang punya. Alhamdulillah rumahnya gak jauh dari rumah saya, dan si anjing di rantai.

Yang menarik, menjadi anjing di Indonesia itu lumayan keren. Bisa jadi personifikasi jika seseorang marah. Anda pasti tau maksud saya .......

Jadi sebenarnya di Indonesia itu banyak anjing ya. Anjing beneran dan jejadian. 
Heheheheee ......

(Posting dibuat untuk adik ipar saya Bintang dan adiknya yang lucu Milo)

Blog EntryNIna?May 18, '08 5:24 AM
for everyone

Hari ini iseng aku browsing lewat yahoo.com, apakah nama nina harada bisa terbaca di sana.
Ternyata ada!

Satu Nina Harada tinggal di USA.
Dan satu Nina Harada yang site-nya tengah anda nikmati ini.

Seneng?
Tauk deh.

Cuman tercengang aja, sedikit.
Heheheheeeee .......

Blog Entry3 Orang Lelaki MabukMay 15, '08 2:16 AM
for everyone

3 orang lelaki mabuk bersama. Satu berkebangsaan Jerman, satu Jepang, dan satu Indonesia. Di antara ketiganya si lelaki Jerman paling tua umurnya dan yang paling muda lelaki Indonesia.

Mula-mula mereka bicara tentang hal remeh-temeh. Terkadang diselingi lelucon wagu dan saru khas bapak-bapak.
Malam semakin larut dan minuman keras semakin banyak dituang.

Entah siapa yang memulai tiba-tiba pembicaraan jadi agak berat. Tentang politik, dan situasi dunia saat ini.
Lelaki Indonesia lebih banyak diam. Sementara 2 seniornya semakin keras bicara.

Tiba-tiba mereka saling menyalahkan.

Jerman : Negaramu tuh, negara paling banyak mengurai darah. Liat perbuatan tentaramu di perang dunia ke-2! 
Jepang : Liat siapa yang bicara! Kayak embahmu gak pernah menggal kepala orang Yahudi saja. Tuh, Hitler keparat, sapa yang punya???

Semakin lama semakin merah muka mereka, dan hampir saja gontok-gontokan sendiri negara siapa yang lebih bejat.

Tiba-tiba lelaki Indonesia mengangkat gelas dan berkata : Kalian ini berisik saja. Aku yang negaranya jadi korban saja tidak banyak cingcong, juga tidak menyimpan dendam. Even I love you both .... (sambil memeluk dan mencium pipi lelaki Jerman dan lelaki Jepang).

(Kisah ini 95% kejadian beneran. 5%nya suntingan sendiri pake bahasa Indonesia. Habis aslinya  mereka pake bahasanya gado-gado gitu ......)

Blog EntryPadamu JuaMay 12, '08 7:59 AM
for everyone

Ketika pecah perang dunia ke2, dimana Jepang juga memainkan peranan sebagai pelaku peperangan yang kemudian terkenal seantero dunia dengan kebengisannya, pemuda Kiyoshi Harada yang waktu itu baru duduk kelas 1 SMP, harus bekerja untuk pemerintah Jepang diperakitan pesawat tempur Jepang bagian membuat lensa pembidik. Syukur waktu itu ia baru kelas 1, karena kakak-kakak kelasnya yang masih sama pemuda ingusan sepertinya harus maju ke medan perang sesuai perintah negara. Bersama pemuda-pemuda seusianya yang belum dikirim ke medan perang, mereka harus bekerja membuat senjata perang. Tiada daya untuk menolak ......

Diwaktu yang sama, perempuan muda berperawakan kecil dengan mata berkilat cerdas, duduk di bangku kuliah jurusan pendidikan di Universitas Negeri Yokohama yang memang terkenal sebagai IKIP terbaik di daratan Jepang. Perempuan muda itu bernama Keiko Sato, yang lahir di Miyagi Ken 5 Mei, tepat di hari yang kemudian diperingati sebagai hari Anak-anak Jepang.

Selepas bangku SMA, orang tua Kiyoshi punya mimpi anaknya bakal jadi PNS, sehingga hidup mereka pasti akan kecukupan di kelak kemudian hari. Oleh karena itu mereka mengirim Kiyoshi ke perguruan tinggi jurusan ekonomi. 
Tetapi ketika ada kesempatan jalan-jalan ke Tokyo, Kiyoshi melihat poster pameran seni lukis Eropa di sebuah museum di Tokyo. Ia tertarik dan melangkahkan kaki ke sana.
Kemudian ia terhenyak. Seperti terkena pencerahan. 
Tak bisa menipu diri lebih lama lagi, diam-diam ia membelok jurusan dari ekonomi ke sekolah seni. Uang saku tentunya terus mengalir karena orang tua tidak tahu menahu pembelotan yang dilakukan Kiyoshi. Ketika akhirnya tercium juga 'kenakalan' itu, uang saku berhenti bersama meledaknya amarah orang tua. Sekolah seni itu haram! Mau jadi apa kamu? Seniman? Makan apa? Kuassss????? Mungkin begitu amarah sang orang tua. Kiyoshi pun berhenti sekolah. Frustasi, ia melarikan diri ke Odawara. Nyantri di padepokan seorang seniman di sana.

Alkisah, lulus dari UNY (Universitas Negeri Yokohama), Keiko langsung diterima mengajar di sekolah misionari di Hakone. Sebuah kota berhawa sejuk hanya beberapa kilometer dari kota Odawara. Keiko di hari luangnya juga suka melukis. Maka diputuskannya untuk mengambil kelas melukis di akhir pekan. Ia pun lalu nyantri di padepokan lukis Odawara.

Tahun itu 1951.
Pertama kali Kiyoshi Harada berkenalan dengan Keiko Sato yang lebih tua tujuh tahun darinya.

Waktu bergulir. Tahun berganti.
Akhirnya sekitar tahun 1956 mereka menghadap keluarga Sato untuk minta restu. Tak cuma restu yang diberikan, tapi juga uang untuk sedikit membuat perayaan pernikahan. Adakah pesta digelar? Tidak. Karena dengan uang pemberian orang tua tersebut, mereka melarikan diri ke Nagasaki! Yah, hitung-hitung bulan madu!

Kemudian mereka menetap di kota Fujisawa. Keadaan di Jepang sangat sulit. Jangankan uang, makananpun sulit di dapat. Pekerjaan juga tak tersedia. Berkah Tuhan, ketika keadaan sulit, Keiko yang kemudian ganti nama menjadi Keiko Harada mengikuti nama suami, hamil. Tak jarang ia berjalan sendirian, mencermati jengkal tanah, siapa tahu ada uang tercecer, sedikit saja .... Karena cuma bisa makan sekali sehari dengan janin di perut, maka air ketubannya menjadi cuma sedikit. Dan dokterpun khawatir. Tapi bagaimana lagi. Makan sekali sehari itu sudah lebih baik daripada tidak makan sama sekali.
Alhamdulillah jabang bayi lahir dengan selamat dan sehat. Mereka menamai bayi merah itu Akatsuki yang berarti selamat.

Karena keadaan tak juga kunjung membaik, diputuskan mereka tinggal bersama dengan orang tua Kiyoshi, di Samukawa. Seperti kisah drama di sinetron Indonesia, bisa diduga sambutan apa yang diterima Keiko di sana. Dingin. Dan juga amarah. Gara-gara engkau anakku tak menurut nasihat orang tua. Sudah lebih tua, persuasif lagi! Kira-kira begitu dongkol ibunda Kiyoshi. Sang bapak yang pendiam, lebih bisa mengendalikan diri dan akhirnya menerima keadaan. Hanya sang bunda dan adik saja yang wajahnya tetap manyun cemberut. Anakku itu nggak kalah ngganteng sama Brad Pit, kok jatuhnya ya sama perempuan lebih tua. Memangnya Keiko itu Demi Moore?

Kemudian Keiko diterima mengajar di SD di daerah kota Fujisawa. Bangun di pagi buta ia memasak utnuk sarapan keluarga. Kemudian membantu bapak mertua memilah hasil ladang. Membersihkan rumah. Ngopeni anak. Baru berangkat mengajar. Pulang mengajar, rutinitas sama. Keadaan begitu setiap hari. Tak jarang ia jatuh ketiduran di dalam kelas.

Lantas apa kerja Kiyoshi? Ia berkeliling-keliling membawa peralatan lukisnya kemana saja tempat yang menurutnya menginspirasi.
Keiko tidak marah dan tidak menuntut apa-apa. Ia terus mendorong suaminya meraih impiannya menjadi seniman yang berkarakter dan dikenal orang.

Ketika Akatsuki berusia 2 tahun, Keiko mendapat kecelakaan. Ia ditabrak mobil dari belakang. Tulang punggungnya cedera. Keiko harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Kemudian diputuskan Akatsuki dibawa ke Miyagi Ken. Rumah orang tua Keiko. Karena Keiko khawatir meninggalkan anaknya sendiri dengan ibu mertuanya. Takut ndak diurusin.

Akatsuki kemudian dirawat kakak perempuan Keiko, Reiko. Lama-lama Akatsuki kecil memanggil Reiko ibu, dan Keiko tante .....

Kecelakaan itu membuat Keiko harus berhenti dari pekerjaannya. Akhirnya ia hanya berdiam di rumah. Menghadapi ibu mertua yang tak kunjung lunak jua hatinya.

Perjuangan Keiko tidak sia-sia. Keadaan yang menekan dan sulit sedikit-sedikit menjadi mudah. Kiyoshi sedikit demi sedikit dikenal orang karyanya. Cuma ia beralih dari seni lukis ke seni pahat. Kemudian ia mendapat tawaran menjadi anggota Rotary Club, yang anggotanya tentu saja wong mblegedu. Tawaran membuat patung semakin deras mengalir. Pundi-pundi uang tentu saja juga menggemuk. Tak terkecuali pemerintah kota Samukawa memintanya membuat beberapa karya untuk dipajang di belahan kota. Kiyoshi yang kemudian terkenal dengan sebutan Junsei sebagai nama senimannya, membuat beberapa patung yang sampai sekarang bisa ditemukan di depan stasiun kereta api Samukawa, di pelataran Balai Kota, di ujung taman kota, dan susut-sudut kota lainnya. Juga kuil Samukawa memintanya membuat sebuah patung yang diletakkan di atas kolam ikan koi, dan juga di sudut jalan menuju kuil. Pemerintah kota Chigasaki juga tak ketinggalan memintanya untuk membuat sebuah patung yang kemudian diletakkan di aula. Patung itu sekarang diberi pembatas. Saking realnya, banyak orang ingin menyentuh patung perempuan yang sedang duduk menanti itu.

Keiko kemudian membuka kursus di rumah. Kursus melukis dan kursus mata pelajaran. Kiyoshi yang menjadi terkenal di seantero kota, juga turut membantunya.

Sekitar tahun 2002, Keiko tiba-tiba berperilaku aneh. Ia mulai kehilangan memori. Ia meletakkan sendok di laci dokumen. Ketika memegang sendok, ia diam saja, tak tahu ini benda apa dan untuk apa. Akhirnya dijatuhkannya sendok itu. Muka Keiko juga menjadi merah dan ia lebih banyak tertegun. Akhirnya Kiyoshi dan anaknya membawa Keiko ke dokter. Hasil analisa, Keiko terkena Alzheimer.

Bahu-membahu dengan anaknya, Kiyoshi merawat Keiko yang semakin turun daya ingatnya. Pernah Keiko hilang. Kiyoshi kelabakan. Tiba-tiba sopir taksi mengantar Keiko pulang. Usut punya usut, Keiko jalan hingga Chigasaki. Untung ada sopir taksi baik hati. Untung di dalam dompet Keiko ada alamat rumahnya. 

Demikian hari terus berganti. Keiko menuntut perhatian penuh Kiyoshi. Bulan Maret 2003, 2 bulan setelah hari Ulang tahunnya yang ke 72, Kiyoshi tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Anaknya Akatsuki berusaha memberi pertolongan pertama sambil menanti ambulance datang. Waktu berkehendak lain. Kiyoshi akhirnya meninggal di pelukan anak tunggalnya ......
Keiko yang tak mengerti bertanya, mengapa laki-laki ini tak menjawab ketika dipanggil? Keiko tetap tak mengerti mengapa banyak orang (sangat amat banyak orang) datang ke rumahnya. Dan mengapa laki-laki ini tidur saja kerjanya ......

Karena Akatsuki harus kerja dan tidak mungkin meninggalkan ibunya sendirian di rumah atau membawa ibunya ke tempat kerja, akhirnya ia membawa sang ibu ke hospice. Agar lebih terjaga dan terawat.

Di ujung tahun 2007, Keiko menolak setiap makanan lunak yang disuapkan padanya. Akhirnya Keiko dibawa ke rumah sakit desa Samukawa di awal tahun 2008. Hasil diagnosa, ada kanker di perutnya. Perkiraan dokter, minimal 3 bulan maksimal 6 bulan sebelum sel kanker memakan daya tahan tubuh Keiko.

Setelah pindah rumah sakit lagi di rumah sakit Gosyomi, karena RSUD Samukawa hanya mampu merawat selama 3 bulan saja, tanggal 27 April 2008, seminggu sebelum Keiko merayakan ulang tahunnya yang ke 85, Kiyoshi datang menjemput Keiko .....

Kini Kiyoshi  dan Keiko telah bersama lagi.
Di rumah mereka yang abadi, di Sono Uchi ......

( Posting panjang ini buat almarhum Bapakku mertua dan almarhumah Ibuku Mertua.
  Kisah cinta kalian abadi ..... )


Blog EntryJanganApr 23, '08 2:59 AM
for everyone

jangan jadi udara bagiku
jangan jadi irama nyanyian hatiku
jangan jadi raja di alam nyata dan mimpiku
jangan jadi kilau gemintang bintang bagi malamku

jangan

itu tak perlu

seperti aku tak mau jadi matahari bagi harimu
aku tak mau jadi ratu di alam nyata dan mimpimu
aku tak mau jadi pelangi di senja indahmu
aku tak mau jadi bulan sabit di malam syahdumu
 
aku tak mau

dan itu kau tak perlu

engkau sebagai engkau
seperti itu 
bagiku
sudah lebih dari cukup

(love me that way, too ...)

Blog EntryKamu aja ya ...Apr 19, '08 11:09 PM
for everyone

Sayang, malam ini masak apa?

Mmmm ... mmmm .... kamu aja yang masak ya .....
(sambil menatap penuh cinta ..)

Blog EntryBiarpunApr 19, '08 11:06 PM
for everyone

Biarpun aku memuja Hirai Ken
Tetap engkau satuku!

Blog EntryPiyamamuApr 19, '08 11:05 PM
for everyone

memakai piyamamu 
serasa penuh tubuhku kau rengkuh ...

Blog EntryTetap ingin BersamamuApr 19, '08 11:04 PM
for everyone

Aku
tetap ingin tumbuh dan menjadi tua
Bersamamu

Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help